RSS

Chapter 1


Perubahan
“Gabriel,,,, Gabriel,,,Gabriel,,, bangun!!!”
Panggilan itu seperti menggema ditelingaku. Sepertinya aku kenal dengan suara itu, ya! Itu lexine, rupanya dia sedari tadi mencoba membangunkan aku.
                “Ada apaa ”
                “Maap tuan, tuan besar sudah menunggu tuan di meja makan sedari tadi”
                “Sudahku bilang!!! Jangan panggila ku tuan, aku bukan orang yang ikut menggajimu!”
“Maaf Gabriel, tadi ayah Gabriel menyuruh saya untuk membangunkan Gabriel. Katanya ada sesuatu yang mau dia bicarakan dengan Gabriel”
Sial ternyata si tua itu yang menyuruh lexine membangunkan aku. Pasti dia mau membicarakan tentang kehebatannya di dunia yang isinya cuma ada orang-orang gila yang bicara tentang kedamain, sadangkan mereka sendiri tidak mengerti akan arti kedamaian itu sebenarnya.
                “Bilang saja aku tidak mau turun atau aku tidak mau bangun atau aku sudah mati.”
                “Tapi Gabriel”
                “Ahh brisik, pergi sana aku mau tidur lagi”
                “Tapi Gabriel”
                “Sudah… pergi sana”
                “Biarkan saja dia”
Suara itu, sepertinya aku tau. Suara itu yang sudah lama tidak aku dengar. Ngapain dia kesini, suara itu sangat menggangu sekali.
“Gabriel aku mau ke parlemen, uang saku mu aku taruh di atas meja, kalau kurang kamu telpon  saja ke nomor ku”
Kata-kata itu seperti sebuah sarapan bagiku di pagi hari. Sudah lama aku tidak melihat wajah bajingan itu, sepertinya aku sudah lupa dengan wajahnya, yang aku ingat hanya kata itu. Kalau kurang telpon saja, kalau butuh telpon saja, kalau perlu telpon saja. Dia pikir dengan telpon semua masalah selesai, dia kira dengan telpon semuanya sudah beres.
                “Papa pergi dulu, kamu jangan buat masalah lagi.”
Papa,,, siapa yang dia bilang papa. Bagiku papa ku sudah lama mati. Bagiku papa itu tidak pernah ada. Dirumah ini hanya ada aku, lexine, smith dan tukang kebun itu yang datang setiap rabu. Hufh… daripada pusing lebih baik aku tidur saja.

“Hoamm, lexine…!!!  Jam berapa sekarang ?!!!”
“Jam 1 tuan”
“Sudah ku bilang jangan panggil aku tuan, aku tidak pernah menggajimu”
“Maap Gabriel, o ya siang ini Gabriel mau makan apa?”
“Yang biasa”
Seperti biasa, aku langsung masuk kamar mandi, kemudian menyejukkan seleruh anggota tubuhku, karna rutinitasku semalam. Pergi mencari kesenangan bersama orang-orang yang menginginkan uangku. Uang. Benda kecil dengan kemampuan yang luar biasa. Denga itu aku bisa mendapatkan teman. Dengan itu aku bisa membayar wanita untuk kepuasan nafsuku. Dengan itu aku bisa melakukan apa saja. Aku tidak mengerti apa ini, tapi aku sangat menikmatinya. Ganja, kokain, sabu, heroin dan minuman keras. Semua itu sudah menjadi makanan wajib bagiku.
“Maap  tuan, e anu Gabriel, tadi ada yang mencari Gabriel. Katanya dia butuh bantuan Gabriel, dia butuh 2 juta riyal, kemudian dia meninggalkan nomor ini. Dia minta agar Gabriel segera mengirimkannya.”
“Mana kertasnya, sekalian bawa ponselku kemari”
“Baik Gabriel”
Teman. Aku punya banyak sekali teman, tapi aku tidak tau siapa, semua orang disekitarku adalah temanku. Teman dari kekeyaan aku miliki. Mereka hanya berteman dengan uangku, bukan denganku.
                “Ini Gabriel”
                “Huff.. oya mana. Kamu bisa bantu saya. Tolong kamu transfer saja uangnya.”
                “Tapi Gabriel”
                “150890, itu pin nya. Jangan dilupakan ya.”
                “Tapi”
                “Apalagi. Sudah kamu saja yang transfer uang nya.”
                “Baiklah Gabriel. Gabriel!!!”
                “Apalagi”
                “Tadi tuan besar pesan, jangan pulang terlalu malam.”
                “Dia bukan papaku, papaku sudah mati.”
Tanpa pikir panjang aku langsung menuju keluar. Druk. Semua isi rumah seperti menggema. Mendengar kata  dari lexine tadi rasanya seperti darah ini langsung menuju otak. Pikiran jadi semrautan.
                “Mana mobilku…!!!”
                “Disebelah sana tuan”
“Kamu siapa ?”
“Saya john tuan, saya menggantikan smith untuk beberapa pekan ini tuan. Anaknya sakit keras.”
“O jadi begitu. Mana mobilku ?”
“Itu tuan”
                “Bukan yang hitam, tapi yang kuning.”
                “yang kuning sedang dicuci tuan”
                “aku bukan tuanmu. Mana kuncinya.”
                “Ini tuan…!!!”
                “Sudah kubilang aku bukan tuan mu”
                “Tapii”
                “Ahhhh.”
Dasar orang rendahan, hanya karna uang dia mau merendahkan dirinya. Uang uang uang. Uanglah yang menjadi raja didunia saat ini. Dan itu tidak akan pernah berubah untuk selamanya.
Tanpa sengaja aku melihat sebuah papan dan ada dua orang yang saling berhadapan, dan salah satu dari orang itu sepertinya aku kenal. Aku ingat, ternyata dia orang yang selalu membangunkan aku di pagi hari, orang itu yang selalu mengganggu tidur nyenyakku pagi hari. Sekilas aku melihat ada tulisan singkat dan sangat jelas sekali. “change is important”. Perubahan itu penting. Kata yang sangat simple, sepertinya kata itu merekat dikepalaku. Entah kenapa, sepanjang seharian ini kata itu tidak bisa aku lupakan. Banyak sekali yang ingin rasanya aku tanyakan. Apa ? untuk siapa ? buat apa ? kenapa ?. seperti ada yang aneh pada diriku ini. Seperti ada yang ingin menyampaikan sesuatu kepadaku, tapi aku tidak tau itu apa. Ada apa ini ?.
                “Pagi bos…”
                “Pagi, kalian gila apa sinting. Jam segini dibilang pagi.”
                “Memang pagi bukan.”
Orang-orang aneh. Sudah hampir sore masih dibilang pagi.
                “Gimana nanti malam kamu ikut kan ?”
                “Tentu, dimana tempatnya ?”
                “Seperti biasa, barangnya sudah ada ?”
                “Belum, habis ini aku beli.”
                “Katanya ada barang bagus bos. Masih perawan. Belum ada yang pakai. Cuman 1 juta.”
                “Aku ambil. Bilang padanya, nanti malam jam 10 tempat biasa. Ok.”
                “Beres bos.”
                “Aku brangkat ya.”
Sabtu yang ramai. Seperti biasa, nanti malam. Itulah rutinitasku. Clubbing, minum, drug free sex. Setelah semua kesibukan yang aku alami, tapi kata itu masih ada dipikiranku.
Malam yang indah, penuh keramaian. Disinilah aku bisa melupakan orang-orang brengsek yang ada disekitarku. Disini aku bisa mencari kebahagian. Bagiku kebahagian itu adalah kepuasan nafsu. Dengan tegukan minuman dan suara bising, serta rayuan dari sampah kota ini, membuatku semakin jauh dari arti kebahagiaan yang aku inginkan sesungguhnya. Aku sangat menikmatinya.
                “Ini dia bos”
                “Lumayan, antar dia ke kamarku, nomor 13.”
                “Ok bos.”
Dasar makluk rendahan, mereka mau saja memperjual-belikan harga dirinya. Harga diri. Apa itu harga diri. Aku sendiri tidak tau apa itu harga diri. Sepertinya semuanya dapat dibeli dengan seonggok kertas.
Dengan langkah sempoyongan, aku menuju sebuah kamar. Sepertinya aku sudah tidak sabar lagi, mengingat perkataan temanku tadi, barang baru.
                “kamu kesini”
                “sekarang ?”
“tidak usah terburu-buru, kita bersenang-senang dulu, malam ini indah, sayang untuk dilewatkan. Namamu siapa?”
“memang itu penting, lebih cepat lebih baik, aku butuh uang itu”
“dasar pecun ! tidak bisa diajak santai sedikit, nanti aku lebihkan. Kenapa kamu mau melakukan ini.”
“Aku ingin berubah. Aku tidak ingin hidup miskin. Percuma saja aku menjaga harga diriku, sedangkan aku hidup menderita. Aku mau berubah. Hanya uang yang aku butuhkan saat ini.”
Aku ingin berubah. Aku mau berubah. Lagi lagi kata itu meracuni kepalaku saat ini. Ada apa dengan diriku. Seperti ada sesuatu yang dalam diriku yang sangat merespon kata itu. Sepertinya aku sudah dibius dengan kata itu.
                “kamu butuh berapa”
Tanpa pikir panjang aku sobek secarik kertas, kemudian mengambil sebuah pulpen.
                “Pembayarannya sekarang ya !!!”
“Sudah bilang saja, dasar pecun. Di otak mu yang ada cuma uang ya. Berapa yang kamu  butuhkan”
“4 juta”
“ini aku sudah buatkan cek untukmu senilai 5 juta, sekarang kamu pulang, dan jadikan ini untuk modal usaha mu  yang baru. Jangan kesini lagi.”
“apa!!!”
“Sudah ! pergi sana, jangan sampai aku berubah pikiran.”
Ada apa denganku, dengan begitu mudah aku memberikan uang begitu saja pada orang lain, padahala aku belum memakainya. Hanya karna ia bilang berubah, kemudian tanpa pikir panjang aku kasih dia 5 juta. Seperti ada sesuatu yang ingin aku berubah. Tapi berubah jadi apa?, berubah seperti apa?, bagaimana caranya?. Ribuan pertanyaan kembali muncul dibenakku. Seperti orang yang hilang di gurun pasir yang luas, dan tak tau mau kemana, mau berbuat apa?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pengikut